Showing posts with label NASIONAL. Show all posts
Showing posts with label NASIONAL. Show all posts

Saturday, November 13, 2010

Citizens Asked to Beware of Cold Lahar Flood

Communities in the western peak of Mount Merapi alert to possible flooding prompted a cold lava flow in several rivers that disgorge the volcano on the border of Central Java's Yogyakarta Special Region. "Residents must comply with the provisions of the dangers of cold lava flow in several rivers," said Secretary of Local Government of Magelang District Utoyo, in Magelang, Central Java, on Saturday (13/11).
A number of rivers that disgorge groove on Mount Merapi in local areas, among others,  Kali Pabelan, Senowo, Lamat, Kali Blongkeng, Kali Bebeng, and Kali Putih. The rain that often flushed the region in recent days have resulted in a number of river channel flood of cold lava by the local people called the "flood ladhu".
Flow of water in addition to carrying the volcanic material from Merapi also fallen branches and trees. Various check dams on local rivers flow to the present is full of Merapi volcanic material. A number of crews operating reckless truck transporting sand from a river filled with material Merapi and mined by some local residents.
"Under the terms of Volcanology Agency, until now the community has not been allowed to move at a distance of about 300 meters from the river channel, because it could happen at any time cold lava flood," he said. Based on observation, sand mining activities of Merapi seen among others in the river Pabelan, Senowo, and Lamat.
Status of the volcanic activity of Mount Merapi, to the still at the highest level of alert. Shot of the hot cloud, glide lava, ash rain, and cold lava floods still occur since the first eruption of Merapi on October 26, 2010.
Most of the residents of various villages that are relatively close to the peak of Merapi are still displaced in various places that are relatively safe. However, a minority of them had returned from evacuation to local villages to look after cattle, cleaning the house from the ashes, and community service cleaning the streets of Merapi volcanic ash.
At night they return to the camps, but others kept vigil in their respective hamlets such as the Village Ngargomulyo, Sumber, Keningar, Mangunsoko, Paten, Krinjing,
District Dukun.

Friday, October 8, 2010

Habitat Subur Para Teroris

MATI satu tumbuh seribu. Ini ungkapan yang pas untuk menggambarkan kesuburan Indonesia sebagai ladang terorisme. Kaum yang berideologi kekerasan itu bertumbuh dan menyebar dalam derajat yang mencengangkan.Sudah puluhah bahkan ratusan teroris yang ditangkap dan terbunuh. Tetapi muncul puluhan bahkan ratusan teroris baru dengan keahlian yang menakjubkan dan keberanian yang menakutkan. Mereka membangun sel-sel yang berserakan di Indonesia, terutama di pulau Jawa dan Sumatera.
Mereka bermetamorfosa dari teror bom menjadi teror bersenjata. Karena bom tidak bisa menyeleksi korban, maka perjuangan melalui kelompok bersenjata korban bisa ditentukan secara lebih akurat.Bom ternyata telah menimbulkan antipati di mata publik. Para teroris rupanya paham bahwa sentimen publik adalah komponen penting bagi habitat yang menyuburkan eksistensi terorisme.Polisi baru saja menangkap belasan tersangka teroris di Medan. Penangkapan itu menyusul penangkapan yang juga masal di Aceh karena terbongkar kegiatan mereka menjadikan Aceh sebagai markas baru terorisme dengan Dulmatin-yang ditembak mati-sebagai otaknya.
Tetapi publik dikejutkan oleh penyerangan terhadap pos polisi di Hamparan Perak, Deli Sedang, Sumatera Utara, Rabu malam oleh sekitar 15 orang bersenjata yang terlatih. Serangan yang menewaskan tiga anggota polisi itu terjadi hanya tiga hari setelah polisi menangkap belasan teroris di kawasan itu. Serangan itu dilakukan teroris yang sakit hati karena polisi telah menangkap dan menembak mati kawanan teroris.Pertanyaan paling penting adalah, mengapa teroris beranak pinak dalam derajat yang mencengangkan di Indonesia. Jawabnya, karena Indonesia telah menjadi habitat yang menyuburkan ideologi perjuangan mereka.Banyak faktor bisa disebut tentang kesuburan habitat ini. Pertama adalah sistem hukum yang lembek bahkan cenderung jelak. Seorang Abu Tholut yang kini dicap sebagai teroris berbahaya adalah orang yang pernah dihukum penjara 8,5 tahun karena kasus terorisme. Tetapi dia hanya menjalani hukuman 4,5 tahun lalu bebas karena memperoleh remisi. Sistem hukum kita tidak membedakan lagi hukuman untuk seorang maling ayam dengan seorang teroris dan koruptor.Kedua, pengawasan terhadap senjata dan bahan peledak yang amat jelek. Kelompok sipil bisa dengan mudah menguasai senjata serbu seperti AK-47 dan M-16 yang sesungguhnya hanya dimiliki tentara dan polisi.Ketiga, intelijen yang buruk. Padahal kita tahu polisi, tentara, kejaksaan, memiliki badan-badan intelijen. Apa yang salah dengan intelijen?
Keempat, negara membiarkan organisasi-organisasi radikal tumbuh subur. Bahkan orang-orang yang memiliki pikiran bahwa negara ini kafir dan karena itu harus diperangi dibiarkan berorganisasi dan secara terang-terangan mengkampanyekan di depan publik tentang ideologi yang berbeda.Penyerangan kelompok bersenjata yang menewaskan tiga polisi di Hamparan Perak, Deli Serdang, adalah alarm yang sangat keras bahwa negara ini dalam bahaya serius. Mungkin harus dipikirkan penerapan undang-undang semacam ISA--Internal Security Act--seperti di Malaysia dan Singapura.

Saturday, February 21, 2009

Dukun Cilik VS Tim Medis dan Pemerintah

Tanpa perlu memberikan jampi-jampi bahkan hanya mencelupkan batu itu kedalam air mineral, banyak pasien yang sembuh sehingga Ponari dianggap sebagai "Dewa Penyembuh". Maka itu orang berduyun-duyun datang dari berbagai daerah menuju tempat praktik dukun cilik itu dengan maksud agar bisa disembuhkan penyakit yang mereka derita.

Yang menarik Ponari tidak memasang tarif, sehingga banyak pasien yang sembuh justru memberi imbalan materi yang lebih. Penyakit yang dapat disembuhkan pun beragam, mulai dari penyakit dalam, bisu hingga tuli. Jelas ini mengundang perhatian orang banyak. Praktik dukun cilik ini tidak bertahan lama karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dibuka lagi, begitu banyak orang yang berdesak-desakkan antri untuk bisa berobat, menonton bahkan berjualan sehingga ada pasien yang pingsan ketika mengantri bahkan meninggal ditambah lagi kondisi kesehatan dukun cilik yang mulai melemah akibat kelelahan dan tentunya dengan umur yang masih 10 tahun keluarganya pun harus memikirkan kelanjutan sekolah Ponari, demi masa depan sehingga semakin kuatlah alasan untuk ditutupnya praktik dukun cilik ini. Sehari sebelum Ponari sakit, dia harus melayani sekitar 6.500 pasien dalam waktu hanya 2,5 jam, dokter sehebat apapun tidak mungkin melakukan ini.

Inilah fenomena yang terjadi, tapi bukan pada keunikan Ponari atau berapa banyak pasien yang dapat dia sembuhkan selama membuka praktek pengobatan tradisional yang ingin saya bahas disini. Hal ini harusnya jadi tamparan keras bagi para pekerja dibidang kesehatan umunya dan pemerintah khususnya, kenapa banyak sekali orang yang menderita penyakit yang beragam datang di praktek pengobatan Ponari? Mari kaji lebih dalam terkait masalah kesehatan di negeri ribuan pulau ini.

Kesehatan rakyat adalah salah satu tugas pokok pemerintah di suatu Negara. Kita ketahui bersama bahwa banyak sekali permasalahan kesehatan di negeri ini. Mulai dari mahalnya biaya berobat, fasilitas yang minim, sumber daya manusia dibidang kesehatan yang sangat kurang jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 220 juta jiwa bahkan dipelayananya pun kurang memuaskan. Ini terlihat jelas ketika saya membandingkan berobat dirumah sakit pemerintah dan dirumah sakit swasta.


Rumah sakit pemerintah terkesan asalan dan kurang menghargai pasien, sedangkan rumah sakit swasta dengan fasilitas yang lumayan, pelayanannya membuat pasien nyaman tapi biaya mahal,walau mungkin tidak semua rumah sakit pemerintah ataupun swasta seperti itu tapi hal ini membuat saya berpikir sepertinya Negara memang membenarkan judul sebuah buku yang ditulis Eko Prasetyo "Orang Miskin Dilarang Sakit" di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, ironis.

Memang pemerintah melalui Departemen Sosial dan Departemen Kesehatan mengadakan banyak program untuk memperhatikan warga miskin, khususnya di bidang kesehatan, tapi prosedur untuk mendapatkan surat keterangan miskin agar bisa berobat sangat berbelit-belit dan tentunya disana-sini ada pungutan liar, sehingga akhirnya orang yang sakit jadi malas mengurusi hal seperti ini. Bagi orang-orang dengan tingkat ekonomi bawah, sakit adalah suatu bencana bahkan ketika sakitnya sudah parah mereka hanya bias bermimpi untuk sembuh karena untuk berobat lebih lanjut mereka harus menjual harta benda mereka bahkan utang sana-sini, sungguh inilah gambaran negeri dengan 35 juta orang miskin.

Untuk mengeluarkan biaya jasa dokter khususnya dokter spesialis masih belum terjangkau oleh sebagian masyarakat. Belum lagi harga obat yang cukup mahal dan harganya pasti akan semakin menggila. Ditambah lagi dengan beban biaya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis, pemeriksaan patologis dan pemeriksaan penunjang lainnya akan semakin tidak terjangkau. Biaya akan semakin melangit bila pasien divonis rawat inap atau operasi.Ditambah lagi dengan beragam kecurangan dari pihak rumah sakit terkait klaim Askes dan banyak rumah sakit yang tidak mau melayani pasien miskin, betapa mulai hilangnya hati nurani kita, kompleks sekali permasalahanya. Wajar warga ramai yang mendatangi praktek dukun cilik, karena sudah jenuh dengan segala permasalahan dibidang kesehatan negeri ini, mereka ingin sembuh tapi tidak membuat mereka semakin melarat secara ekonomi.

Ada hal mendasar menurut saya yang menjadi penyebab mahalnya biaya kesehatan. Ini terkait sumber daya manusia, kita ketahui bersama bahwa untuk masuk di sebuah Fakultas Kedokteran suatu kampus berapa banyak uang yang dikeluarkan? ratusan juta! itu untuk masuk saja, belum untuk biaya hidup selama kuliah, biaya praktek, biaya ambil profesi dan lain-lain. Tentunya secara logika sederhana, pastinya ada motif ekonomi ketika para sarjana fakultas kedokteran itu lulus. Mereka harus berpikir bagaimana untuk mengembalikan modal yang mereka keluarkan selam kuliah, tentunya cara yang termudah adalah dengan menjual jasa mereka mahal sekali, obat yang harganya murah pun bisa jadi mahal.

Kuliah dibidang kesehatan seperti farmasi, keperawatan dan kebidanan, sungguh mahal. Pendidikan yang baik memang mahal, tapi pertanyaanya; siapakah yang harusnya membiayai pendidikan itu?? Agar lingkaran setan masalah kesehatan dinegeri ini bisa terselesaikan. Harusnya kita belajar dari Venezuela negeri yang luas wilayahnya lebih kecil dari Indonesia dan sumber daya alamnya lebih sedikit dari Indonesia, Fakultas kedokteran disana murah sehingga para lulusanya pun dapat mengabdi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik untuk rakyatnya dengan harga terjangkau.

Apakah ramainya pasien dukun cilik, sebagai pertanda ketidakpercayaan rakyat pada dokter yang hanya menetapkan tarif tinggi tapi tidak dapat menyembuhkan pasienya?? Para dokter, apoteker, perawat, produsen obat, dinas kesehatan, dan pekerja medis lainnya sebaiknya menyimak tulisan ini. Saatnya mengingat kembali nasib kaum ekonomi lemah. Perlakukan mereka dengan layak dan jangan persalahkan mereka dengan mengatakan bodoh mempercayai "keajaiban" dukun kecil ketika mereka berduyun-duyun untuk berobat ke Ponari.

Kondisi ekonomi yang tidak menentu ditambah pemerintah yang sedang sibuk mempertahankan kekuasaanya ketika mendekati PEMILU mulai semakin lupa dengan tugasnya mengurusi kesehatan dan pendidikan rakyatnya. Harusnya kita semua dapat disadarkan dengan fenomena dukun cilik ini, malu sebagai orang yang diamanahi untuk mengurus negeri ini. Semoga intelektual dan hati kita masih bekerja dengan baik untuk sama-sama mensejahterakan rakyat negeri ini.

Thursday, November 6, 2008

Media Harus Netral Pada Pilkada 2009

MEDIA merupakan suatu pusat informasi yang di tuangkan dalam bentuk berbeda-beda baik dalam bentuk elektronik maupun tulisankarena melalui media inila orang dapat memperoleh informasi, baik dari dalam Negeri maupun di luar Negeri sehinngga dari tidak tau menjadi tau.
Pada Pemilu 2009 yang akan datang media diminta netral dan membuat berita pemilu seimbang bila perlu memang ada halaman untuk publikasi khusus pemilu legislatif maupun Pilpres tahun 2009 mendatang. Di luar halaman itu terserah calon untuk memanfaatkan halaman media bersangkutan.
Kesepakatan tersebut seiring dengan pernyataan bersama dari sejumlah pimpinan media massa nasional dalam dialog interaktif LPP RRI dan INFES (International Foundation for Exection Systems) yang di gelar, di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Dialog tersebut membahas peranan media dalam peliputan pemilu 2009, selain itu sebagai pihak-pihak lain media juga di tuntut tidak lepas dari tanggung jawab sosial demi mensukseskan pemilihan umum.

Amrozi Cs Belum Juga Dieksekusi, Pengusaha Wisata Resah

Denpasar, 6/11 (Blokir)
Para pengusaha pariwisata di Bali mengaku resah membayangkan masa depan bisnisnya menyusul belum jelasnya tanggal eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali, demikian Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, I Gde Wiratha di Kuta, Bali, Kamis.
Ia mengungkapkan, pesan teror dari terpidana bom Bali menjadi bukti lemahnya pemerintah Indonesia dalam memberi rasa aman kepada warga Indonesia dan asing yang hendak berwisata di sini.
"Kami mohon media massa tidak memberitakan berlebihan mengenai pelaku bom Bali seperti seorang pahlawan," imbaunya kepada media.
Berita-berita sejumlah media cetak dan elektronik mengenai teroris justru telah membuat semua orang khawatir dan takut.
"Siapa bilang pariwisata Bali tidak terpengaruh? Siapa juga yang bilang kunjungan wisatawan asing ke Bali hanya turun 10 persen? Lihat sekarang jalan-jalan di kawasan wisata Kuta mulai sepi," kata pemilik Hotel Bounty itu.
Wiratha berharap media di Indonesia lebih bijak dalam mengangkat berita-berita sensitif dan tidak menjadi alat propaganda para teroris.
"Masyarakat Bali takut pergi ke tempat keramaian. Wisatawan saat ini sangat was-was, bahkan sejumlah negara meningkatkan status peringatan kepada warganya, seperti dilakukan pemerintah Australia," ujar Wiratha. (Net-Wakmat-Blokir)

Saturday, November 1, 2008

Penyelesaian Masalah Bangsa Ini Tidak Cukup 100 Hari

MAYORITAS para bakal calon pemimpin negeri ini kedepan, ketika dirinya sudah menyatakan bakal mencalonkan diri. Mulai membuat janji-janji pada rakyatnya untuk menarik perhatian, saking ambisiusnya mereka sanggup menjual limit waktu dengan janji rela diturunkan atau mengundurkan diri bila sampai batas waktu itu programnya tidak tercapai, ironis memang.
Seharusnya, tidak perlu membuat janji yang ultimatum dead linenya seperti itu karena itu merupakan kebohongan publik. Sedangkan, dalam aturan di negara kita tidak ada istilah denikian itu, yang ada jika berhalangan tetap seperti, meninggal dunia atau sakit.
Beberapa hari lalu warta internet kabarindonesia, di Jakarta, memberitakan pernyataan capres partai Gerindra, Letjen (pur) Prabowo Subianto. Menurut Prabowo, dia tidak percaya terhadap lontaran program 100 hari para capres 2009. "Program 100 Hari hanya PR (public relations), hanya untuk menarik perhatian," ujarnya, Rabu kemarin di The Ary Suta Center, Jakarta.
Akibat sistim perekonomian yang keliru dan sangat pelik dihadapi bangsa indonesia selama ini menurut Prabowo, penyelesaian persoalannya membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak mungkin bisa diselesaikan dalam kurun waktu 100 hari. Sekarang kita contohkan pada pertambahan laju pertumbuhan penduduk indonesia, tambahnya menerangkan. "Bayangkan jika dalam setahun pertumbuhan penduduk mencapai 2 persen, setiap tahun akan ada 5 juta orang, setara dengan populasi Singapura. Kita harus menyediakan lapangan pekerjaan, perumahan, dan pangan untuk 5 juta mulut," tutur putra bengawan ekonomi Soemitro mantan Menkeu dulu itu, serius.
Belum lagi permasalahan lainnya, seperti perubahan iklim dan meningkatnya air laut. "Jadi, tidak banyak yang dapat diperbuat pada program 100 hari," jelas Prabowo menerangkan dengan lancar dan tegas. (Net-Raffi-Blokir)